Pilot pesawat: pekerjaan paling mudah
Banyak orang sepakat bahwa mengemudi pesawat terbang perlu kecermatan tinggi. Kesalahan kecil yang dilakukan oleh pilot pesawat dikawatirkan mengakibatkan kecelakaan yang fatal. Nalar umum (common sense) berkata kerugian akibat pesawat jatuh pasti lebih besar dari pada kecelakaan berkendara mobil di jalan raya. Dengan demikian, rasanya logis saja bahwa pengemudian pesawat tidak bisa didelegasikan kepada sembarangan orang. Ini diartikan sebagai orang yang memiliki kecerdasan tinggi: IQ, EQ, SQ, FQ, … dan segala Q lain. Karena sulitnya mendapatkan orang yang HQ maka wajar pilot adalah profesi dengan gaji tinggi.
Namun, bila kita kaji lebih jauh (ini bahasa ilmiah, bukan?). Sebenarnya, mengemudikan pesawat itu adalah pekerjaan yang paling mudah, sehingga bahkan orang idiot pun pasti dapat menjadi pilot. Tidak percaya? Mari kita uraikan.
Dari asumsi bahwa pengendalian pesawat perlu kecermatan tinggi, maka seluruh kecermatan itu sudah menyertakan kombinasi kemungkinan masalah yang akan terjadi dan -tentu saja sudah ada- prosedur penyelesaian masalah.
Bayangkan: Seandainya dalam tiket pesawat anda tertulis: keselamatan penumpang bukan tanggung-jawab
pengelola parkirperusahaan penerbangan. Apakah anda berani naik pesawat?
Argh … tapi dengan maraknya tulisan semacam itu di kartu parkir yang dimaklumi oleh masyarakat, mungkin saja penumpang pesawat akan menerima syarat dan ketentuan itu.
(Sekali lagi) jika semua sudah tertuang dalam langkah baku (standard procedure), maka pilot tinggal menjalankan prosedur. Seturut dengan tingkat kebakuan, bahwa semakin baik (ke-baku-an-nya) suatu prosedur maka semakin mudah dijalankan. Ingat jargon: KISS = Keep It Simple and Stupid! Buatlah Sederhana dan Bodoh! Dalam hal ini, prosedur yang sangat-amat baku adalah apabila prosedur sangat sederhana sehingga bahkan orang idiot bodoh pun dapat menjalaninya.
Nah, perusahaan penerbangan yang baik pasti menyusun prosedur –tepatnya: SUDAH memiliki prosedur– yang KISS. Perusahaan yang -masih- menggaji pilot yang HQ (High Quality) dan HS (High Salary = bergaji tinggi) menunjukkan bahwa perusahaan -masih- belum punya HP (High standard Procedure = prosedur yang sangat baku).
Selanjutnya, karena konsumen penerbangan memilih penerbangan yang paling aman, yaitu penerbangan yang memiliki prosedur yang paling baku, yaitu yang memiliki pilot paling bodoh sederhana atau bergaji rendah. Maka wajar juga bila alih-alih perusahaan menggaji tinggi pilot, perusahaan memiliki prosedur yang baku.
Apakah logika ini sudah logis? Apa pendapat anda?
