weblog go bZip

25 February 2006

things left unsaid » mahalnya internet kami

Filed under: Cuap cuap, perilaku, networking - gobzip @ 06:45:57 am

Setelah membaca lognya Eko Juniarto a.k.a.
things left unsaid » mahalnya internet kami

Saya menerima sebuah wangsit dari suatu tempat pada suatu masa:

Wahai rakyat jelata
Tidak sadarkah kalian
Mahalnya biaya investasi
Untuk infrastruktur jaringan
Bahkan untuk menggunakannya

Selanjutnya, saya pun termenung memikiri:

Bila akses internet termasuk dalam salah satu sumber daya yang terbatas, maka haruslah dikelola dengan baek dan dimanfaatkan secara menghasilkan (produktif). Resources yang langka sudah sewajarnya diperebutkan. Dan

    siapa pun yang mendapatkannya hendaknya memberikan tanggung-jawab sosial atas penguasaannya
.

Begitu lah mungkin latar belakangi pemikiran sehingga terjadi pajak atas bandwidth. Sungguh logis dan akurat, selama asumsi benar. Asumsi bahwa bandwidth adalah resource yang terbatas. Sebelum mulai melabeli bandwidth dengan “langka”, baiklah mempertimbangkan faktor panyebab sehingga membuat bandwidth ini menjadi tampak-langka?

Kelangkaan dari sebuah-produk-yang-sebenarnya-tidak-langka kemungkinan disebabkan oleh satu atau beberapa faktor. Ini wangsit lagi:
a. bahan-baku: biaya narik kabel, kabelnya sendiri, frekuensinya …
b. ketidakmampuan mengelola: ngurusnya, berantakannya, …
c. niat lain sehingga kemudian di-langka-kan.
misalnya:
+ niat baik supaya akses internet dipakai dengan benar atau
+ niat baik (pula) supaya akses internet menghasilkan pendapatan (buat siapa?)
+ …

Tapiiii … sebelum ngelantur ketiduran, yang penting:

mahalnya akses internet tidak tepat dijadikan alasan untuk tidak bebayar pajak.
Justru karena mahal maka sepantasnya bandwidth terkenai pajak.

Maka: murahkan biaya akses!

Salah satu cara: yach, itu tadi: jangan kenai pajak!!!

Oya, omong-omong, knowledge economy itu bukannya:
+makin ekonomis knowledge berarti
+makin bernilai knowledge alias
+makin mahal pula knowledge?

Ehm … zzz .. zzz …

23 February 2006

nickname bukan anonim

Filed under: komputer, perilaku - gobzip @ 01:54:26 am

Di dunia maya internet sudah biasa orang menggunakan nama lain sebagai identitas. Tidak selalu berarti ada maksud negatif, penipuan. Pula belum tentu usaha sekedar menjadi anonim. Seperti penulis blog ini. Bila pengunjung cukup jeli, sebenarnya tidak terlalu sulit melacak siapa jati diri penulis sesungguhnya.

Ada banyak alasan seseorang menggunakan nama lain.

Silahkan lihat Wikipedia tentang nickname menuliskan:

A nickname is a short, clever, cute, derogatory, or otherwise substitute name for a person or thing’s real name …

Kemudian pula ada istilah lain yang masing-masing membawa konotasi / arti sendiri seperti: nama alias, atau nama panggilan, atau -secara kurang tepat- nama samaran.

Saya menggunakan nama ini karena beberapa alasan. Yang utama, nama panggilan ini sudah terlanjur biasa dipakai sebelumnya. Karena sudah biasa dan tidak asing bagi saya, maka tetap dipakai. Mengapa dan bagaimana nama ini muncul? Ada ceritanya laaa pasti … rasanya tidak terlalu manfaat bagi pembaca maka saya pikir bisa dicerita lain kali .

Penulis mengharap tulisan dalam blog tetap apa adanya. Terutama bila latar belakang senyata membuat persepsi beda atas tulisan. Namun, bila pembaca tidak tahan untuk membayangkan penulis maka sebelum mulai melacak, mari ikuti salah satu episode spongebob berikut.

Spongebob Squarepants yang polos, lugu, selalu berpikir positif, bergairah, ceria, penuh ide, penuh semangat. Sedangkan Squidward adalah cumi yang malas dan selalu curiga. Ketika melihat selembar kertas, Squidward akan segera mengabaikan atau mempertanyakan “siapa yang membuang kertas sembarangan?“. Tetapi Spongebob tahu bagaimana bisa bersenang-senang dengan selembar kertas.

Blog ini hanya selembar kertas.
Tulisan di sini hanya sekedar tulisan.
Apa sikap anda terhadap selembar kertas?
Apa pandangan anda terhadap tulisan saya?

16 February 2006

offline Email atau online Message di Friendster?

Filed under: komputer, perilaku - gobzip @ 06:41:00 am

Ini bukan soal mana yang lebih baik, tetapi fakta. Beberapa user, yang plain - end user, lebih sering membaca dan membalas message di friendster daripada menggunakan sistem email yang sudah ada.

Saya menemukan beberapa rekanan di internet yang responsif bila dikontak melalui friendster. Tepatnya, sistem message friendster. Beberapa email yang saya kirimkan tampaknya tidak dibaca, apalagi dibalas. Padahal alamat email tersebut yang digunakan sebagai dasar mendaftar di friendster.

Kemungkinan besar selama ini mereka belum mengenal offline mailer, seperti Microsoft Outlook, Outlook express, Mozilla Thunderbird, Pegasus Mail, dsb. Beberapa menggunakan webmail seperti yahoo! dan hotmail. Email saya ke domain tersebut tidak dibaca mungkin karena mereka merasa sudah cukup dengan friendster. Walah!!!

Kata pepatah: internet tidak seluas daun friendster.

Fakta yang menarik lagi, ternyata mereka mengambil jasa internet yang tagihannya dikemas bersama ongkos pulsa telpon rumahan. Jika mereka jarang akses internet, biaya mahal tidak terlalu masalah karena toh tagihan ndak dipikirin (baca: yang mikir orang lain). Tapi mereka termasuk rajin login di situs friendster.

Oooow … ini soal rejeki isp dan situs yang mujur ‘kan?
Tentu. Perilaku user internet seperti itu menjadi pelajaran bagi … setidaknya saya pribadi … tentang keberadaan segmen market.

Anda tidak mau menjalankan bisnis di internet dengan alasan bahwa sebagian besar masyarakat belum mau (dan mampu) berbelanja di internet? Silahkan. Terlepas dari segala kelemahan, biar bagaimanapun juga ada jumlah pengguna internet makin banyak dan masih akan bertambah banyak. Selanjutnya, makin besar pasar, makin besar peluang.

Hentikan diskusi soal mengalihkan pasar offline menjadi pasar online. Bukan pula soal menarik orang yang biasa belanja offline sehingga belanja online. Melainkan, bagaimana menangkap target market yang sudah ada.

Selamat datang kesempatan!!

10 February 2006

Mana duluan: inovasi atau regulasi?

Filed under: perilaku, networking - gobzip @ 02:39:47 am

Seperti pertanyaan klasik: mana duluan ayam apa telor?
Begitu pula pertanyaan: inovasi atau regulasi?

Terkadang kita mengharap bukan sekedar mengadopsi teknologi, tetapi bahkan mampu menciptakan teknologi baru. Setidaknya re-kreasi teknologi yang sudah ada. Seperti harapan dirjen postel dalam workshop ipv6 November 2005 lalu :

… agar bangsa Indonesia kali ini tidak sekedar menjadi pengikut tetapi juga dapat mengambil manfaat dari kesempatan revolusi teknologi internet kali ini.

Namun, harus diakui kita juga lamban menghadapi kemajuan teknologi seperti laporan detikinet tentang tanggapan BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia) terhadap rencana Intel Indonesia untuk melakukan uji coba WiMax (Worldwide Interoperability for Microwave Access) di Indonesia, pada pertengahan 2006. Bukannya dengan segera mengajak menyusun regulasi, tetapi malah

…. jangan tergesa-gesa untuk uji coba, sampai standarnya ditetapkan.

Maka, wajar ada kekhawatiran disebut sebagai “kriminalisasi inovasi teknologi” yang muncul dalam diskusi “Rencana Strategis Pemanfaatan Teknologi Telematika bagi Kemajuan Bangsa” di Elektro ITB.

Ketika orang melakukan inovasi teknologi, bukannya 18 Giga Bit yang datang, akan tetapi 18 hari di bui. Aduh. Dampak yang terjadi dengan adanya penangkapan pelaku telematika adalah adanya ketakutan orang untuk melakukan inovasi.

Ingat regulasi wireless LAN (wavelan, 2.4GHz) yang belum juga final padahal sudah terlalu banyak yang nekat tergantung pada teknologi itu.

Jika
+ regulasi adalah ayam dan
+ pemakaian-teknologi adalah telur,
maka pada kasus tersebut ternyata
+ telur sudah bisa dimakan dan tak-pernah-habis bahkan
+ tanpa menunggu ayam siap untuk regenerasi.

Bagaimana dengan WiMax?
Lemparkan saja ide-ide penyusunan regulasi pada pelaku teknologi. Biarlah masyarakat melalui orang-orang yang interest membentuk forum. Seperti yang terjadi pada teknologi IPv6 di dalam roadmap internet Indonesia disebutkan:

… berbagai rencana strategis dengan memberdayakan forum IPv6 untuk membawa internet Indonesia menjadi sepenuhnya berbasis IPv6 pada tahun 2008. Forum IPv6 yang semula diprakarsai oleh individu-individu kini sudah memiliki struktur organisasi yang makin lengkap.

Dengan demikian kerja BRTI akan semakin mudah karena inisiatif banyak pihak pasti hasilnya didukung pula oleh banyak pihak. BRTI cukup sebagai fasilitator dan moderator.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King