Kemiskinan yang memiskinkan
Pagi ini seperti biasa aku terhenti di perempatan yang biasa. Seorang pengemis menyorongkan gelas plastik bekas air mineral. Aku meraba dashboard untuk mengambil receh. Kosong!! Ugh …
Beberapa tahun lalu aku pernah “keberatan” memberi receh kepada pengemis.
Pertama. Aku sudah punya “jalur sedekah” dan secara rutin telah aku penuhi. Sejak krismon marak terjadi penipuan berkedok bantuan, sumbangan, iuran, atau semacamnya. Maka aku pilih satu jalur saja dan biarlah jalur tersebut yang menentukan bagaimana mengaturnya.
Angkanya cukup lumayan *ehm* -semoga-. Jadi, aku bukan orang pelit kan yow … he he … O:)
Kedua. Aku yakin orang lain juga pasti pernah kepikir, bahwa pengemis cukup sehat jasmani rohani untuk bekerja. Bila kita beri, maka pengemis makin malas. Tidak mendidik. Apalagi dengar berita bahwa banyak mereka yang punya “koordinator”. Sebenarnya uang dinikmati oleh mereka.
Ketiga. Bukankah sudah menjadi kewajiban negara untuk mengurus orang miskin? Salah satu service pemerintah dan tujuan kita bayar pajak supaya ada ngurus orang yang tak bisa urus diri sendiri.
Ok. Setidaknya 3 alasan tadi, maka diputuskan untuk tidak terlibat.
Sayangnya dengan keputusan itu, masalah tetap saja tak-selesai. Aku masih lihat dan diminta dan TETAP kepikiran. Ck ck ck … gak tahan!!! Aku tidak bisa mengubah eksternal, hanya bisa ubah diri sendiri. Begitulah maka aku putuskan sediakan dana cadangan untuk bersedekah secara acak.
Tutup mata, jangan lihat jorok tidaknya gembel .
Tutup telinga, jangan dengar sumbang tidaknya suara pengamen.
Tutup hati, jangan rasakan pilu tidaknya sandiwara pengemis.
Tutup pikiran, jangan pikirkan layak tidaknya kemiskinan.
Aku siapkan “sumbangan” di mobil, di kantong, di mana pun mudah dijangkau untuk dialungkan kepada yang meminta. Lain kali, ada hal yang perlu diperiksa setiap pagi selain air kaburator, oli mesin, oli rem, angin ban, … ingatkan aku untuk uang derma.

