things left unsaid » mahalnya internet kami
Setelah membaca lognya Eko Juniarto a.k.a.
things left unsaid » mahalnya internet kami
Saya menerima sebuah wangsit dari suatu tempat pada suatu masa:
Wahai rakyat jelata
Tidak sadarkah kalian
Mahalnya biaya investasi
Untuk infrastruktur jaringan
Bahkan untuk menggunakannya
Selanjutnya, saya pun termenung memikiri:
Bila akses internet termasuk dalam salah satu sumber daya yang terbatas, maka haruslah dikelola dengan baek dan dimanfaatkan secara menghasilkan (produktif). Resources yang langka sudah sewajarnya diperebutkan. Dan
siapa pun yang mendapatkannya hendaknya memberikan tanggung-jawab sosial atas penguasaannya
.
Begitu lah mungkin latar belakangi pemikiran sehingga terjadi pajak atas bandwidth. Sungguh logis dan akurat, selama asumsi benar. Asumsi bahwa bandwidth adalah resource yang terbatas. Sebelum mulai melabeli bandwidth dengan “langka”, baiklah mempertimbangkan faktor panyebab sehingga membuat bandwidth ini menjadi tampak-langka?
Kelangkaan dari sebuah-produk-yang-sebenarnya-tidak-langka kemungkinan disebabkan oleh satu atau beberapa faktor. Ini wangsit lagi:
a. bahan-baku: biaya narik kabel, kabelnya sendiri, frekuensinya …
b. ketidakmampuan mengelola: ngurusnya, berantakannya, …
c. niat lain sehingga kemudian di-langka-kan.
misalnya:
+ niat baik supaya akses internet dipakai dengan benar atau
+ niat baik (pula) supaya akses internet menghasilkan pendapatan (buat siapa?)
+ …
Tapiiii … sebelum ngelantur ketiduran, yang penting:
mahalnya akses internet tidak tepat dijadikan alasan untuk tidak bebayar pajak.
Justru karena mahal maka sepantasnya bandwidth terkenai pajak.
Maka: murahkan biaya akses!
Salah satu cara: yach, itu tadi: jangan kenai pajak!!!
Oya, omong-omong, knowledge economy itu bukannya:
+makin ekonomis knowledge berarti
+makin bernilai knowledge alias
+makin mahal pula knowledge?
Ehm … zzz .. zzz …

