weblog go bZip

2 March 2006

Menggali ide menghindari bajakan

Filed under: Cuap cuap, perilaku

Kasus klasik teknologi informasi di Indonesia:
software (bersama dengan barang soft lain) illegal alias bajakan.
Setiap kali diangkat, hasil akhirnya:
1. mahal, tidak sesuai dengan kantong orang Indonesia
2. yang lain juga pakai (termasuk loe)

Bosan? Mentok?
Tampaknya ini hanya soal “siap atau niat”.

Alasan: mahal, sebenarnya sudah dijawab atau diberi jalan keluar dengan alternatif: FLOSS, opensource atau lisensi freeware lain. Ini tidak bisa diterima dengan alasan: belum lengkap, kurang sesuai dengan kebutuhan, atau terlalu sulit pemakaiannya, terlalu sulit mengelolanya. Benarkah? Atau pengaruh iklan pemasaran software komersial?

Kesulitan menggunakan dan/atau mengelola software tidak berhubungan dengan jenis lisensinya. Yang-murah-di-harga tidak selalu kurang-berarti. Freeware tidak sama dengan semau-gue. Ada banyak salah paham tentang ini. Saya anjurkan baca Open Source, Kita Pantas Memilikinya. Seandainya pun kita menghadapi masalah dengan software komersial, apakah lantas kita bisa mendapatkan solusi atau sekedar “contact vendor”? Apakah layanan akan lebih baik?

Merasa sebuah software mahal dan tidak sesuai dengan kantong Indonesia, menunjukkan ybs tidak-mampu-membayar software. Ternyata orang itu begitu mengenaskan, menyedihkan, dan miskin. Mana ekspresinyaaaa? eh .. kebanggaannya? Tidak heran banyak kasus pemalsuan status miskin untuk mendapatkan BTL. he he .. :)

Kemudian, atas-nama-kemiskinan melanggar property orang lain? Apakah pengemis boleh mengambil *paksa* tanpa kerelaan penderma? Pengemis atau merampok atas nama kemiskinan?
Menjadi pengemis saja, saya tidak sanggup. Apalagi mengemis dengan paksaan.

Oya, ada juga yang menganggap mahal karena software tersebut tidak-layak-dibayar-segitu. Betapa arogan eeeh .. hebatnya! Mari kita lihat seperti apa software yang lebih baik yang bisa dia buat.

Alasan: yang-lain-juga-pakai mirip mengesahkan tindakan penjarahan. Jika alasan-mahal-karena-tak-sanggup sangat dekat pada pengemis, maka alasan-loe-juga-pakai menunjukkan sikap pengecut. Beraninya ramai-ramai, ikut-ikutan, tidak punya inisiatif, tidak-kreatif, saling-tuduh, … buzzzeett …

Juga, tidak baik menghalangi seseorang yang sedang berusaha untuk maju dan jujur. Bila tidak sanggup mendukung dengan sumber daya, tidak perlu melemahkan semangatnya.

Jengkel, malu, kecewa dengan semua kejelekan ini?
Ya!! Ini saatnya Indonesia bangkit, bukan malah putus asa.
Berhenti mengeluh!! Cari solusi yang elegan!!
Kita disebut kreatif bila kita sudah menemukan.
Jadi, selama belum ketemu, maka cari terus.

“menjadi kreatif” juga ada teknik-nya loh. Saya sarankan membaca buku-bukunya Edward de Bono. Misal: Berpikir Lateral.

Salah satu cara, misalnya dengan mempertimbangkan kembali kebutuhan pengguna. Fitur apa saja yang sebenarnya dipergunakan dan dimanfaatkan? Benarkah semua fitur tersebut dibutuhkan?

Banyak kasus: orang membeli komputer yang lengkap, tapi tak jelas apa kriteria lengkap yang diinginkan. Maunya yang-paling-canggih, tapi tidak tahu bagaimana memanfaatkan kecanggihan. Kita bisa belajar dari maraknya pasar handphone dan mubazirnya fitur dan kepemilikan teknologi ini.

Nasehat pemuka agama bilang: jauhkan keserakahan.

Kreatif aja koq repot ….






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham