weblog go bZip

21 April 2006

Semudah pohon biner

Filed under: Cuap cuap, perilaku - gobzip @ 04:40:49 am

Seandainya pilihan yang ada hanya nol dan satu seperti sistem bilangan biner. Semua urusan akan menjadi seperti pohon biner.

Dalam coding program terlebih seputar hardcoding, kita menemukan titik cabang sehingga mesin harus memilih Yes atau No (Ya atau Ndak) yang ditentukan oleh uji kondisi.

IF (kondisi)
THEN

(instruksi bila kondisi terpenuhi)

ELSE

(instruksi bila kondisi tak-terpenuhi)

END IF

Model ini sangat sederhana. Rasanya, begitu mudah bagi kebanyakan programmer. Namun, ternyata tidak semua orang bisa mengerti. Bahkan sangat sulit dimengerti. Entah mengapa atau dimana keruwetannya.

Polemik urusan p0rno (majalah Playboy Indonesia, RUU-APP, aneka RUU lainnya) saya kira sudah selesai, tapi ternyata perdebatan masih juga hanget. Paling tidak, salah satu blog membahas “Rombak atau Batalkan RUU APP ” masih juga menuai komentar.

Seorang rekan berpendapat:

ilmu sosial tidak semudah membalikkan telapak tangan

.

Setuju! Asumsinya, tangan dan telapak dalam keadaan normal, utuh dan sehat. Tapi, apa definisi “normal”? Apa kriteria utuh? Apa arti sehat? Jangan-jangan kita sedang beda pandang tentang telapak, tangan, membalikkan, … dan kombinasinya. Ternyata ini juga urusan yang ruwet.

“Tidak semudah” juga masih belum selesai. Setelah satu masalah terbukti tidak sama mudah dengan urusan lain, masalah tersebut masih tetap masalah. Belum terpecahkan. Jadi, “so what” gitu loh?

Jika opsi terhadap RUU-APP hanya dua:
(0) No/Ndak/Tolak dan
(1) Yes/Ya/Terima
maka sebenarnya masalah sederhana.

Masalah menjadi rumit bila ada sebagian yang bisa diterima dan sebagian bisa ditolak, tetapi masyarakat hanya diberi dua opsi tadi. Lebih parah lagi, masing-masing membawa latar belakang kecurigaan. Definisi menjadi kabur, aksioma kesasar, hipotesa menjadi kacau, pembuktian ribet.

Metode “cabang satu kondisi” dalam syntax IF menjadi berlapis/bertingkat dan dirancukan dengan looping. Makin heboh ketika muncul instruksi “die” (dalam perl), memungkinkan program selesai mendadak dalam situasi apa pun. Bahkan ketika ada dalam subrutin yang terdalam. Kejam!!!

Situasi yang kompleks (seperti soal porno) ini memang tidak mudah diselesaikan. Apalagi bila hanya dengan model satu IF. Namun ranting-ranting yang ruwet beserta dead-end [tak-terduga] dapat disederhanakan ke dalam kelompok cabang yang runut. Akhirnya, hanya bermuara dalam satu pohon tunggal. Pohon tunggal ini bercabang ganda hingga menjadi ranting-ranting menghasilkan daun rimbun serta buah manfaat.

Bila konsep cabang dua (biner) saja sulit dimengerti, betapa sulitnya bisa memahami keseluruhan pohon.

Lain daripada mempersulit masalah dengan cara melebihkan dari membalikkan telapak tangan, mengapa tidak membuat menjadi sesederhana membuka telapak tangan.

Kata motto: KISS = Keep It Simple n Stupid



ps acronym:
membalikkan telapak tangan = meninju, menutup, pesimis, agresif
membuka telapak tangan = mempersilahkan, menyerahkan, mengajak

18 April 2006

Playboy Indonesia: edisi perdana

Filed under: perilaku - gobzip @ 02:59:19 am

Ini komentar jahil, tak penting, dan bukan sikap
tentang majalah Playboy Indonesia.

Awalnya aku gak ada minat untuk baca apalagi beli.
Ini tidak terkait soal mesum, moral, atau mutu isi.
Cuman, beda pasar ajah.

Banyak berita bahwa banyak menentang,
malah bikin penasaran.

Syukurlah harganya lebih mahal
-setidaknya- dari kebutuhan
-sekadar- memuaskan
rasa ingin tahu.

Jadi kepikiran …
jangan-jangan …
edisi perdana …
juga dibuat pelangkaan …
dengan penyitaan …
oleh pihak ketiga …

He he …

;)

Artikel yang mungkin terkait:
Dewasa Tolak Playboy

12 April 2006

Blogger Indonesia A. Fatih Syuhud Weblog: Indonesian Intelligentsia and Mass Leader

Filed under: Cuap cuap, perilaku - gobzip @ 01:30:21 am

Blogger Indonesia A. Fatih Syuhud Weblog: Indonesian Intelligentsia and Mass Leader

Beberapa fakta, pelajaran, tentang situasi di Indon. Ini catatan saya sebagai orang awam di bidang politik:

1. Pemilihan umum belum sempurna. Banyak faktor penyebab. Rakyat pemilih belum cukup kenal dan tahu siapa / apa yang dipilih. Organisasi politik masih belum optimal. Perlu waktu belajar yang cukup panjang untuk menemukan bentuk demokrasi yang tepat untuk situasi Indon.

2. Ada dua kelompok yang perlu ber-sinergi (menurut fatih syuhud): (1) politikus-praktis dan (2) ilmuwan atau every indonesian intelligentsia.

Peranan masing-masing kedua kelompok tersebut terhadap politik Indonesia memang beda. Para ilmuwan belajar ilmunya sementara para praktisi menerapkan ilmunya. Sudah benar dan tepat demikian!

Koleksi riset ilmiah seputar soal politik dan sosial sebenarnya sudah cukup banyak dan dapat diimplementasi namun para praktisi politis belum terbiasa membaca hasil riset. Sebaliknya periset cenderung membuat laporan dalam format ilmiah untuk menjaga kebenaran ilmu yang mereka pahami.

Praktisi politik selayaknya terdiri atas orang-orang yang sudah paham “dasar-dasar” politik. Ibaratnya jawara IT yang kurang PeDe ngerombak Jendela jika belum menyandang M1cro50ft Certified *something* atau gemeter ngrimping kabel UTP karena belon pernah ikut C15co Certified *otherthing*.

Kalau tidak salah ingat, dulu ada kasus pemeriksaan ijasah untuk anggota legislatif. Itu sudah baik. Tinggal ditingkatkan lagi. Ijasahnya harus cukup jelas. Tidak semua lulusan bisa jadi anggota DPR. Misal, tukang insinyur jebolan perguruan tinggi cap Gajah Duduk ditugasi nulis hukum karma. Ndak nyambung itu. Sebagai nara sumber sih bisa saja. Namun, perlu paham bahasa hukum. Misal, bisa diperoleh melalui sebuah kursus ter-sertifikasi bidang terkait.

Bukan menarik para “pandito” turun dari awan, melainkan menggodok para calon praktisi dengan lebih baik. Begitu seorang ilmuwan turun dari awan, maka sebenarnya dia bukan ilmuwan lagi melainkan praktisi.

Tidak semua orang bisa segalanya. Tidak semua ilmuwan berbakat menjadi praktisi. Mungkin memang demikian kontribusi yang bisa diberikan oleh ilmuwan. Dalam banyak kasus seorang ilmuwan yang praktisi bisa malah bikin runyam, situasi bertambah parah.

Catatan kaki buku kerja saya tertulis: teamwork is the Catalyst that Yields Excellence from Shared Strengths. Setiap orang hendaknya memiliki kekuatan di bidangnya masing-masing dan menjadi katalis bagi kemajuan seluruh kelompok.

6 April 2006

Mat Pithi: banyolan suroboyoan

Filed under: Cuap cuap, perilaku - gobzip @ 12:50:37 am

Mat Pithi: banyolan suroboyoan
http://matpithi.freewebsitehosting.com/matisi.htm

Awas: banyak yang ngeres tapi renyah gurih karena menggunakan
bahasa Jawa Suroboyoan kental.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King