Blogger Indonesia A. Fatih Syuhud Weblog: Indonesian Intelligentsia and Mass Leader
Blogger Indonesia A. Fatih Syuhud Weblog: Indonesian Intelligentsia and Mass Leader
Beberapa fakta, pelajaran, tentang situasi di Indon. Ini catatan saya sebagai orang awam di bidang politik:
1. Pemilihan umum belum sempurna. Banyak faktor penyebab. Rakyat pemilih belum cukup kenal dan tahu siapa / apa yang dipilih. Organisasi politik masih belum optimal. Perlu waktu belajar yang cukup panjang untuk menemukan bentuk demokrasi yang tepat untuk situasi Indon.
2. Ada dua kelompok yang perlu ber-sinergi (menurut fatih syuhud): (1) politikus-praktis dan (2) ilmuwan atau every indonesian intelligentsia.
Peranan masing-masing kedua kelompok tersebut terhadap politik Indonesia memang beda. Para ilmuwan belajar ilmunya sementara para praktisi menerapkan ilmunya. Sudah benar dan tepat demikian!
Koleksi riset ilmiah seputar soal politik dan sosial sebenarnya sudah cukup banyak dan dapat diimplementasi namun para praktisi politis belum terbiasa membaca hasil riset. Sebaliknya periset cenderung membuat laporan dalam format ilmiah untuk menjaga kebenaran ilmu yang mereka pahami.
Praktisi politik selayaknya terdiri atas orang-orang yang sudah paham “dasar-dasar” politik. Ibaratnya jawara IT yang kurang PeDe ngerombak Jendela jika belum menyandang M1cro50ft Certified *something* atau gemeter ngrimping kabel UTP karena belon pernah ikut C15co Certified *otherthing*.
Kalau tidak salah ingat, dulu ada kasus pemeriksaan ijasah untuk anggota legislatif. Itu sudah baik. Tinggal ditingkatkan lagi. Ijasahnya harus cukup jelas. Tidak semua lulusan bisa jadi anggota DPR. Misal, tukang insinyur jebolan perguruan tinggi cap Gajah Duduk ditugasi nulis hukum karma. Ndak nyambung itu. Sebagai nara sumber sih bisa saja. Namun, perlu paham bahasa hukum. Misal, bisa diperoleh melalui sebuah kursus ter-sertifikasi bidang terkait.
Bukan menarik para “pandito” turun dari awan, melainkan menggodok para calon praktisi dengan lebih baik. Begitu seorang ilmuwan turun dari awan, maka sebenarnya dia bukan ilmuwan lagi melainkan praktisi.
Tidak semua orang bisa segalanya. Tidak semua ilmuwan berbakat menjadi praktisi. Mungkin memang demikian kontribusi yang bisa diberikan oleh ilmuwan. Dalam banyak kasus seorang ilmuwan yang praktisi bisa malah bikin runyam, situasi bertambah parah.
Catatan kaki buku kerja saya tertulis: teamwork is the Catalyst that Yields Excellence from Shared Strengths. Setiap orang hendaknya memiliki kekuatan di bidangnya masing-masing dan menjadi katalis bagi kemajuan seluruh kelompok.

