Krisis Energi, krisis sumber daya
Seandainya negara ini memang kaya, mengapa rakyat tidak makmur sejahtera? Bila sumber daya melimpah, mengapa masih perlu penghematan?
Kabarnya, Produsen Listrik (N) kita menghimbau pengurangan konsumsi listrik. Gemblung! Anomali!! Baru kali ini lah ada produsen yang tidak mau produknya laris. Alasannya, setiap produk yang dikonsumsi ternyata menghasilkan kerugian. Loh koq? Meski sudah ada subsidi, tapi harga jual (plus subsidi) masih di bawah biaya produksi!
Sudah lebih dari dua bulan rekan saya masih belum dapat pegawai. Loh koq? Padahal, kabarnya, banyak pengangguran. Pasang iklan sudah dilakukan, tapi pelamar kacau semua. Tak ada yang mencapai standar kemampuan yang diharapkan.
Daftar masalah masih bisa ditambah. Alasan masih bisa dirunut. Alih-alih macet pada masalah dan berputar-putar ke belakang mencari penyebabnya, lebih baik mulai maju memikirkan cara tujuan yang lain yang bisa dicapai.
Untuk listrik, biarlah konsumen memboroskan listrik sebesarnya asal mampu membayar dan memberikan kontribusi berarti.
Untuk tenaga kerja, biarlah gunakan jumlah karyawan banyak untuk memenuhi kapasitas pekerjaan asal mau mengerti situasi perusahaan dengan gaji secukupnya.
Mari menghamburkan sumber daya asal sesuai manfaatnya.


Negeri ini memang aneh, senengnya selalu selalu berjalan ditempat…
Apa-apa selalu dijadikan debat kusir, eker-ekeran dewe..
Comment by Anonymous — 25 July 2006 @ 04:19:09 pm
PLN barangkali memang bermasalah dalam manajemen layanan yang dijual, namun menghemat sumber daya tetap merupakan sikap bijak yang berlaku sepanjang waktu. Di masa panen atau paceklik; di waktu berlebih atau kekurangan. Berhambur-hambur atau boros sumber daya asal sesuai manfaat adalah dua sisi yang bertentangan, lebih baik kita tegaskan: mari manfaatkan sumber daya sebaik mungkin. “Bisa membayar” bukan segalanya.
Comment by Amal — 27 July 2006 @ 06:16:42 am