mimpi: komunikasi masa depan
Mimpi: bagaimana ‘bentuk’ komunikasi masa depan?
Tadi pagi baca artikel sebuah koran bahwa handphone 3G diserbu oleh kalangan menengah atas. Saya duga ini kejadian di Jakarta, karena yang operasional baru Jakarta. Ternyata saya salah. Gak gaul bener deh saya ini, baru tahu bahwa di negeri ini sudah lebih maju. Maka, malem hari ini saya akan dateng dan bertanya mencari “wangsit”. Dan ini lah wangsit itu sudah hadir bahkan sebelum ketemu.
Menurut dongeng yang dikisahkan di wikipedia, mulai seputar 1960-1970 disebut jaman kesatu (1G) hanya ada lapisan analog - komunikasi suara. Kemudian datanglah jaman kedua (2G) yang menjadikan komunikasi juga berupa pertukaran data. Kini, kita telah ada di pertengahan jaman ketiga (3G) yang meletakkan pertukaran sinyal dijital sebagai lapisan [layer] di bawah komunikasi yang sesungguhnya.
Bagi pengguna akhir. Jaman pertama, cuma bisa ngomong dan dengar suara. Jaman kedua, bisa tuker-tukeran tulisan, gambar dan file anek media (multimedia). Jaman ketiga saatnya nonton dan ngobrol langsung dan sekaligus.
Basbang? He he … iya .. iya .. cukup deh review masa lalu.
Apa yang terjadi pada jaman keempat? jaman kelima? dst …
Menurut Mas Wangsito Noto Boto Limo Mangku Ongko Songo, jaman keempat arah komunikasi melalui banyak saluran dan mengalir mengatasi pertimbangan waktu. Daya alir (stream) akan terus ditingkatkan hingga dimiliki saluran pipa yang ruar-biasa besar.
Untuk apa perlu menambah kapasitas pertukaran data? Saluran komunikasi akan diisi dengan komunikasi dengan hologram. Gambar bergoyang (bergerak) pada jaman ketiga adalah gambar datar dua dimensi. Pastilah dengan segera tidak memuasi para penikmat teknologi. Keinginan berikutnya, membawa situasi utuh alam kenyataan (reality) yang ada di sisi teman bicara di seberang sono.
Baik baik … terus jaman kelima?
Eeeh .. nanti dulu. Ini mungkin masih bisa dihitung jaman keempat atau sebut saja sebagai jaman empat-a (ada ‘aaah’ nya setelah empat).
Me-maya-kan (virtualize?) seluruh alam di sisi lain dengan menangkap cahaya, aroma, dan suara. Merakit kembali ke-nyata-nya (the reality) di sisi sini dengan menampilkan gambar di depan mata, membunyikan suara di telinga, dan mengeluarkan aroma di hidung. Bagaimana jika menirukan “sinyal” mata menangkap cahaya? Bagaimana jika ada alat untuk menggetarkan gedang telinga (atau tulang telinga?) daripada mengeluarkan bunyi? Bagaimana bila merangsang indera penciuman daripada membawa persediaan aroma? Atau … lebih praktis kirim sinyal di processor utama manusia, si otak.
Pada jaman kelima, teknologi elektronik dan pe-sinyal-an, seperti jaman keempat sudah semakin tidak sanggup lagi. Perlu terobosan baru yang lebih hebat.
Ribuan tahun lalu manusia hanya berburu binatang bila dibutuhkan yaitu untuk ngisi perut (makan). Kemudian ratusan tahun lalu, diajak bermain, dan selanjutnya dikaryakan. Misalnya kuda untuk menarik gerobak.
Kini, menggunakan binatang untuk pekerjaan manusia sudah digantikan oleh peralatan - teknologi. Nanti, peralatan juga akan menemukan batas tertingginya.
Mas Wangsito Noto Boto Limo Mangku Ongko Songo mengayunkan tangan mencari cangkir kopi kesayangan. Eiits … cangkir kosong. he he …
Pada jaman kelima teknologi dalam tanda petik akan berubah. Tidak dapat lagi mengandalkan peralatan.
Lihatlah sekarang banyak jasa-jasa penangkap hantu, dedemit atau makhluk halus lain. Sejauh ini para tak-terlihat (unvisible creature) hanya ditangkap, dikurung, direlokasi, atau diusir. Pada jaman keempat, yang-ginian akan dipelajari dan diamati. Kemudian, pemanfaatannya akan distandarisasi pada jaman kelima.
Wis wis … sekian dulu …
Yang mau komentar silahkan.
Saya mohon pamit sebelum kebacot .. eh kebacut.
