Baterai Isi Lagi
Baterai (ejaan English-nya battery) ada yang sekali pake dan ada yang bisa dipakai lagi karena/setelah dapat diisi lagi (rechargeable). Ada jenis laen lagi? Yap. Banyak! Tapi, sekarang aku lagi mbedain yang dua ini. Pasalnya …. {ngke’ heula, ntar dulu, mending ganti alinea yeeuh}
Musim mobilitas gini, kebutuhan daya yang bisa ditenteng, yang disebut baterai, meningkat. Baterai ada di handphone, ada di laptop, ada di “fluke” (alat buat ngetest jaringan), ada di kamera (segala jenis: dijital ataupun analog). Ehm … baterai juga ada di pemain mp3 (mp3-player, atau malah mp4-player?).
Sebagai tukang-komputer dengan aneka alat ber-baterai dan pakenya sering, maka konsumsi daya setrum juga banyak. Kebayang ‘kan kalau baterainya tidak bisa diisi ulang. Atau istilah lainnya: jika baterainya bukan jenis “baterai isi lagi” (rechargeable batteray). Selain kemasan (bungkus) juga ampas endapan baterai bertebaran di kranjang sampah. Lebih bersalah lagi bila bekasan semua tadi tidak bisa didaur ulang. Setidaknya bila biaya mendaur ulang lebih mahal daripada beli baru, maka keputusan bos besar pasti pilih yang murah.
Teori efisiensi tadi tidak berlaku baik di kalangan pengguna mainan elektronik. Mainan mobil-mobil-an, senapan-senapan-an, robot-robot-an, handhpone-handphone-an, kucing-kucing-an, anjing-anjing-an, … kebon-binatang-kebon-binatang-an, …
Penelitian asal-asalan dengan sampel semaunya membawa pada kesimpulan bahwa baterai (yang terpasang pada mainan) tidak terpakai dalam usia panjang. Sebabnya, tidak selalu karena kehabisan daya yang tersimpan dalam baterai. Bisa saja, karena para pengguna (yang rata-rata termasuk jenis manusia muda usia ini) melihat masih banyak hal yang menarik yang perlu dieksplorasi. Bisa juga karena perangkatnya cepat rusak meski bukan buatan Cina. Tergantung kondisi mana yang muncul duluan.
Baterai-isi-lagi menjadi tidak praktis. Pertama-tama, soal waktu. Ada kerepotan untuk nge-charge lagi. Penggunanya keburu pindah urusan (tak-sabar). Kedua-dua, repot mengingat di mana nyimpennya. Ketiga-tiga, harganya pasti lebih mahal sekira 10 kali lipat baterai biasa. Keempat-empat, mesti punya charger.
Jadi, tak semua saat tepat menggunakan baterai-isi-lagi. Setuju?

