Tiga tahap “siapa”
Lelucon waktu kuliah tentang ‘tiga siapa‘ ternyata juga berlaku di lingkungan kerja. Tidak jelas siapa pencetus ide cerita ini, tapi jika dianalogikan dalam suatu masa jabatan bisa membuat kita paham akan fenomena suatu siklus sistem.
Di kalangan mahasiswa, jadul ketika masih kuliah, saya mendapat cerita tentang tiga tahap siapa:
1. tahap pertama: “siapa aku”
Tahap ini berlaku bagi mahasiswa yang baru masuk. Mahasiswa baru biasanya merasa sebagai orang terpilih. Tentu saja, terpilih di antara yang tidak terpilih.
Dalam pergaulan, terlebih soal jodoh, dia merasa semua orang tahu “siapa aku”. Dia pikir dia pasti laku, dapat banyak fasilitas, dan kemudahan, karena semua orang tahu “siapa aku“.
2. tahap kedua: “siapa dia”
Pada tahun kedua, tahun ketiga, atau hingga tahun keempat, mahasiswa mulai merasa kerepotan. Tugas yang banyak, pelajaran makin sulit, ujian harus diulang, dan mulai merasa bahwa ternyata perhatian orang di lingkungannya biasa saja. Tidak ada fasilitas yang istimewa. Dia mulai sadar perlunya usaha untuk mendapatkan dukungan orang lain. Tapi, dia masih ragu dan gengsi. Mulailah, mahasiswa bertanya kiri-kanan “siapa dia“. Apakah teman dekat, tetangga, atau orang-orang di sekitarnya ada yang mau membantu? Begitu juga soal jodoh, ternyata susah.
3. tahap ketiga: “siapa saja“.
Tahap bagi mahasiswa tahun terakhir, menjelang lulus atau sudah dikejar target waktu. Ternyata, sulit sekali mengharapkan bantuan orang lain yang tadinya diharapkan. Mahasiswa ini sudah panik. Bagaimana kalau lulus dan tidak dapat kerja? Bagaimana kalau tidak bisa lulus? Bagaimana kalau lulus tapi belum punya “pendamping wisuda”? “Siapa saja” yang mau bantu? “Siapa saja” yang mau jadi pendamping?
Dalam dunia kerja berlaku hal yang serupa. Seorang pejabat baru, mulai pada jabatan pimpinan level atas hingga jabatan paling bawah, mengalami tiga tahapan tadi.
Pada awal masa jabatan, si pejabat yang masih dalam tahap “siapa aku” merasa tahu segalanya dan orang lain harusnya me-fasilitasi idenya. Semakin tinggi jabatan (dan kekuasaan), semakin berbahaya berada pada tahap ini. Secara tidak sengaja pejabat akan mengerahkan sumber daya perusahaan sebanyak mungkin untuk mendukung keinginannya, tetapi sangat pelit mendukung gagasan orang lain.
Setelah beberapa waktu, orang ini akan sadar bahwa dia (atau gagasannya) tidak istimewa dan perlu dukungan orang lain. Pada tahap “siapa dia”, si pejabat mulai mempelajari orang yang bisa membantunya. Tapi, akibat tahap “siapa aku” yang -biasanya- menyakitkan bagi orang lain, si pejabat berhati-hati memilih orang lain untuk dilibatkan dalam pencapaian idenya.
Ketika masa jabatan hampir habis, tetapi masih banyak yang harus dikerjakan, maka diperlukan “siapa saja” untuk menyelesaikan target. Pejabat dalam tahap ini berpeluang menghamburkan bonus untuk siapa saja atau ide apa saja.
Berdasarkan teori “tiga tahap” tadi, artikel ini sudah sampai tahap ketiga: “tulisan apa aja” untuk segera bisa dipublish dan (semoga) dikomentari.


teori keempat
“siapa kita” dan apa pentingnya menulis dan membaca tulisan ini..
hoho..
Comment by manda — 20 July 2007 @ 02:08:38 am