weblog go bZip

7 April 2008

Cerpen: Pembuktian

Filed under: perilaku, Cerita

Peringatan: Cerita ini ini hanyalah sebuah Cerita. Jika ada kesamaan nama dan/atau tempat maka hanya kebetulan belaka. Cerita ini dikutip dari sebuah milis dengan ijin sang pengirim.

Marah, bingungRuang yang sempit penuh dengan asap rokok yang membetuk kabut kelabu. Wajah-wajah geram dengan sorot mata penuh kemarahan, kebencian dan kefrustasian terpampang di sekitarku. Terkadang bau alkohol dari mulut-mulut yang tersiram “Topi Miring” menyelinap diantara bau asap rokok. Bercampur aduk dengan bau keringat dari tubuh yang jarang tersentuh air. Menambah pengap dan panas udara di kamar yang pengap.

Aku mengubah posisi kaki yang agak kesemutan. Mataku terasa pedas dicuci asap rokok. Sudah hampir satu jam aku mendengarkan keluh kemarahan anak-anak. Mereka sangat marah sebab beberapa orang kampung, tetangga kami, memprotes kehadiran kami di tengah mereka. Memang sejak beberapa waktu lalu orang kampung mengeluh akan kehadiran rumah singgah di kampung mereka. Mereka mengeluh anak-anak suka membuat ribut bahkan pada saat tengah malam. Mereka beberapa kali bertengkar. Mereka mabuk di tepi jalan. Bermain judi di mulut gang. Suka mencuri barang milik rumah singgah dan menjualnya di tetangga. Masih banyak keluhan yang disampaikan para tetangga. Akhirnya mereka memutuskan agar rumah singgah ditutup. Usulan semacam ini bukan pertama kali aku dengar. Penutupan rumah singgah bukan pertama kali kami alami.

Orang-orang itu memang tidak tahu siapa anak jalanan.” kata seorang anak berambut gondrong dan di betisnya ada tatonya.
Anak jalanan kan juga warga negara yang punya hak untuk tinggal dimana saja.” kata seorang anak yang bertelanjang dada. “Mengapa kita tidak boleh tinggal di kampung ini? Toh kita kan membayar uang kontrak dan tidak pernah mengganggu kampung.” lanjutnya dengan bersemangat. Suaranya agak cedal sebab otaknya dipengaruhi oleh “gotres

Sejak tadi kami berdebat penuh kemarahan tapi belum menemukan jalan keluar. Memang di kamar ini kami tidak sedang berusaha mencari jalan keluar, sebab semuanya hanya menyatakan keberatan dan kemarahannya akibat dihina dan dicap sebagai anak liar oleh orang kampung. Anak-anak memang tidak pernah mencuri di kampung ini. Kalau mereka mencuri maka mencuri di jalan atau tempat lain. Mereka tidak pernah mabuk di kampung. Mereka minum “Topi Miring” di tepi jalan dan dalam keadaan mabuk pulang ke rumah singgah. Mereka tidak pernah berkelahi dengan orang kampung. Kalau mereka berkelahi dengan sesama maka mereka mencari tempat yang jauh. Alasannya orang yang berkelahi di kampong adalah seorang pengecut sebab berharap di pisah oleh orang kampung. Bila memang jantan berkelahi di tempat sepi sampai salah satu sungguh kalah atau bahkan mati. Mengapa mereka tidak boleh tinggal di kampung? Ini yang menjadi kemarahan anak-anak. Mereka tidak mau dicap sebagai kriminal kecil dan segala stigmata yang ditempelkan pada kehidupan mereka.

Kita buat rusuh saja kampung ini!” teriak seorang anak berambut gondrong. Bau alkohol segera menusuk hidung setiap dia berbicara. “Kita hajar saja orang yang berani mengusir kita.
Ya, kita curi saja barang-barang mereka.” sahut yang lain. “Paling kita sekolah satu dua tahun aja.

Ungkapan itu seperti api yang jatuh di atas tumpukan jerami yang basah oleh bensin. Serentak caci maki dan sumpah serapah keluar dari mulut mereka. Ancaman penuh kebencian terucap. Tangan-tangan mengepal bahkan ada yang memukul lantai keras-keras.

Mataku pedih, sepedih hatiku. Aku prihatin melihat reaksi mereka. Aku hanya menghela nafas panjang. Orang kampung memang tidak adil sebab berusaha mengusir anak-anak dengan tuduhan yang sangat menyakitkan hati. Tapi bila anak-anak akhirnya membalas orang kampung kuanggap juga bukan hal yang baik.

Mengapa kita harus bersikap kasar pada orang kampung?” tanyaku. Semua mata anak-anak tertuju padaku. Wajah-wajah geram bagai serigala yang siap memangsaku.

Mereka ebih dulu menyinggung harga diri kita.” bentak seorang anak penuh kemarahan. “Mereka menuduh kita semena-mena.” lanjutnya.
Apakah kalian berkelahi dengan orang kampung?” tanyaku.
Tidak pernah!” jawab mereka hampir serentak.

Mengapa sekarang mau berkelahi dengan mereka?” tanyaku
Sebab mereka menuduh kita suka berkelahi, pembuat onar dan sebagainya.“, sahut anak yang bertato.
Bukankah tuduhan itu menjadi benar ketika kalian menantang mereka berkelahi?” tanyaku lagi.
Biar mereka tahu rasa dan mau menghargai kita.” sahut yang lain.
Sampean itu terlalu lemah dan mengalah.

Apakah kalau kalian mau mengalah dan diam berarti kalian kalah dan tidak punya harga diri?
Ya!” teriak mereka hampir bersamaan.
Apakah harga diri kalian ditentukan dari perkelahian?” tanyaku berusaha mengalahkan suara mereka.
Ya! kalau kita diam dikira kita takut pada mereka.” sahut salah satu anak.
Kalian salah!” potongku. “Seharusnya kalau ada orang yang mengatakan kalian suka membuat rusuh, maka kalian harus membuktikan bahwa kalian tidak membuat rusuh. Kalau kalian berkelahi maka orang akan semakin yakin bahwa kalian memang pembuat rusuh.” suaraku agak keras agar mereka menangkap apa yang aku katakan.

Kami tidak pernah membuat rusuh.” bantah seorang anak.
Makanya kalau kalian tidak pernah membuat rusuh maka jangan membuat rusuh.“, suaraku agak lebih pelan. “Memang perlu kalian akui bahwa ada banyak anak jalanan yang berbuat rusuh. Kalian pasti pernah mencuri, mabuk, berkelahi, dan bertengkar bukan?” tanyaku.

Semua mata hanya menatapku. Mereka tidak bisa membantah, sebab sebagian besar memang pernah melakukannya.
Tapi kan tidak di kampung.
Soal terjadi di kampung sini atau dijalanan bukan menjadi soal!” jawabku.

Orang kampung melihat dan mendengar bahwa kalian, anak jalanan, adalah anak-anak pembuat onar, pencuri, suka berkelahi dan sebagainya. Jika kalian ingin tidak dianggap seperti itu maka kalian harus membuktikan misalnya dengan bersikap sopan, mengalah, mengembalikan barang orang yang jatuh dan sebagainya.” Kutatap setiap wajah. Ada banyak sinar ketidakpuasan terpancar.

Kita harus mampu membuktikan bahwa apa yang dikatakan orang kampung itu tentang hidup kita itu salah dengan cara membuktikan dari sikap hidup kita di sini saat ini. Bila kalian berkelahi dan membuat rusuh kampung, maka orang kampung akan mengatakan, “benar bukan apa yang kita katakan selama ini bahwa anak jalanan itu suka membuat rusuh.” Apakah bukan begitu?“, tanyaku. Semua anak terdiam.

Orang itu tidak butuh banyak teori, tapi ingin melihat dan merasakan. Orang kampung memang mendengar bahwa anak jalanan itu pembuat onar, maka kalian harus menunjukkan bahwa anak jalanan itu cinta damai. Bila orang kampung melihat kalian bisa hidup damai disini, maka mereka akan menyadari bahwa dirinya salah. Mereka akan terbuka matanya bahwa anak jalanan tidak seperti yang mereka bayangkan. Tapi bila kalian membuat rusuh maka kalian sudah membenarkan tuduhan mereka.

Semua anak terdiam berusaha memahami apa yang kukatakan. Aku pun diam membiarkan mereka memahami apa yang aku kehendaki. Asap rokok semakin menebal. Aku tidak tahan berdiam di tengah kepungan asap. Maka aku keluar untuk sedikit menghirup udara segar yang terbawa angin malam.

Aku harap anak-anak tidak akan membuat rusuh kampung sehingga menjadi pembenaran akan tuduhan yang dilontarkan masyarakat selama ini terhadap mereka. Aku tidak ingin gara-gara buruk rupa maka kaca dibelah. Buruk rupa harus diterima. Kenakalan dan aneka cap tentang anak jalanan harus diterima dan dibuktikan sebaliknya. Tapi sering kali anak-anak berpikir picik dan arogan sehingga jatuh dalam kekerasan.

Aku yakin orang kampung tidak asal mengatakan, sebab mereka sudah pernah mendengar tentang apa yang pernah dilakukan anak-anak jalanan. Maka inilah saat yang tepat bagi anak-anak untuk membuktikan bahwa sikap dan kehidupan mereka tidak sama seperti yang didengar oleh orang kampung.

———–
*Topi miring: merk sebuah minul beralkohol yang harganya murah sehingga mudah dibeli oleh anak-anak jalanan dan kaum miskin yang lain.
*gotres: adalah sejenis pil semacam ekstasi yang murah dan membuat orang fly dan ketagihan.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://gobzip.blogsome.com/2008/04/07/cerpen-pembuktian/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>























Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham