weblog go bZip

24 September 2007

Makanan instan != makanan murah

Filed under: Cuap cuap, Hiburan

Cooked instant noodle served with chicken Semenjak jaman kuliah saya suka makan mie instant, yang bahasa Inggrisnya: “instant noodle” (bukan “instant mie“). Sengaja saya pakai kata “suka” karena ini memberi beberapa arti. Kata suka dapat dipakai untuk padanan “senang” atau “gemar“. Tapi -secara salah(?)- juga diartikan sebagai “sering“. Cukup dengan pelajaran bahasa Indonesia … he he he …

Alasan utama, waktu itu barangkali, karena kantong cekak dan harga murah. Sekarang, sekian persen kebenaran, alasan ini sudah tidak tepat. Meskipun kantong belum tebal (kapan sih kita merasa benar-benar berkantong tebal?), tapi bukan urutan pertama. Yang pasti, alasan “kantong cekak” untuk urusan makan mie instant saat ini tidak muncul dalam iklan tentang mie instant. Mungkin alasan harga murah masih relevan. [Seperti pembuat/pengguna FOSS/Free Open Source Software, tidak mau ngaku ‘ga kuat bikin/beli software bebayar’? :P waakakaka …] Kebanyakan jenis mie instant berharga kurang dari seribu rupiah. Kecuali yang jumbo atau rasa tertentu. Lah iya lah. :=D

Alasan berikutnya, rasa yang cocok dengan lidah. Saya bukan penikmat makanan. Tidak banyak makanan yang cocok dengan selera. Wisata kuliner hanya sampai tahap mencoba tapi tidak cukup sampai menambah lagi. Mungkin karena variasi mie instant cukup banyak sehingga peluang cocok makin tinggi.

Selanjutnya, cara memasak mie instant sangat mudah dan sederhana. Didihkan air dan masukkan seluruh isi bungkusan. Aduk-aduk dikit biar rata. Beres. Terkadang tambahkan beberapa cabe utuh biar tambah ganas (karena kepedesan). Kalau ada, daun kol yang dipotong tipis-tipis panjang atau wortel dicampurkan setengah matang buat varian keras-retas di antara mie yang lembut-empuk. Saya kira daun sosin kurang cocok untuk penyegar mie instant dibandingkan daun singkong. Begitu pula, telur ayam tidak selalu tepat untuk dicampur. Kadang aroma telur bikin napsu makan, tapi kadang malah terlalu eneg, tergantung suasana hati (eh lambung?). Makannya pun mudah. Pakai sendok! (Lah iyah) Cukup satu tangan dengan sendok tanpa belepotan. Bandingkan dengan makan nasi timbel (plus ayam goreng, ikan asin, tahu goreng, sambal dan lalap), harus dihadapi dengan jurus 5 jari tangan kanan dan tangan kiri juga 5 jari. Ribet amat!!

Alasan lain adalah mie instant disajikan hangat. Jangan nunggu dingin atau terlalu lama direndam kuah. Pasti tidak enak. Lewat tengah malam, biasanya udara Bandung dingin (setidaknya lebih dingin dibanding kebanyakan kota besar lain di Indonesia) dan sisa … eh kelebihan … makan malam sudah dingin. Menghangatkan makanan sisa eh kelebihan makan malam terlalu repot. Lebih praktis masak mie instant. Kandungan lemaknya sangat rendah sehingga tidak membuat kegemukan.

Mie instant bisa dijadikan lauk bersama nasi. Tepatnya, makan nasi dengan lauk mie instant. Kabarnya, orang Indonesia belum makan bila belum makan nasi. Sejauh ini berlaku untuk saya. Perut belum nyaman bila dalam sehari belum ada nasi dalam jumlah cukup yang masuk.

Sudah berapa alesan yow …. Argh, sudah ah, banyak alasan. Sekarang pengen makan mie instant, tapi ga bisa, karena lagi nge-blog dan ga ada yang masakin. Jadi ngeblog-nya disudahin dulu supaya ngeblog tidak jadi halangan (bukan alasan) tidak ngonsumsi mie instant. … sruput … woah woah …

19 September 2007

Kecepatan kamera melebihi kecepatan cahaya

Filed under: Hiburan

Enterprise ngebut Hari ini saya berkesempatan nonton startrek (edisi TNG: captain picard, data, dkk) tepatnya session 2 episode 13 bertajuk Time - Squared. Kapan yach saya terakhir kali nonton film sci-fi? Rasanya lama sekali.

Seperti biasa di-shoot adegan pesawat enterprise yang sedang melaju dalam kecepatan warp. Latar belakang hitam pekat alam semesta dihiasi dengan garis-garis cahaya berseliweran.

Tiba-tiba kepikiran: bagaimana kamera bisa menangkap adegan yang melebihi kecepatan cahaya?

Jika ada yang tahu jawaban, tolong saya dikirimi episode yang lain.
Terima kasih sebelumnya.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham